Deklarasi Pemilu Damai: Menampar Muka Jokowi?

Deklarasi Pemilu Damai: Menampar Muka Jokowi?

Akhwat Muslimah - Oleh: Nasrudin Joha


Boleh lah, orang sekelas SBY marah meski dengan aktualisasi sederhana : meninggalkan lokasi deklarasi damai. Zulkifli PAN dan beberapa petinggi partai juga melakukan hal yang sama.


Bagi orang awam, marwah direndahkan dengan tipu daya dan muslihat mungkin tak mengapa. Tapi, bagi orang yang punya legacy politik, memiliki saham membangun negeri, perlakuan yang tidak layak sah dibalas dengan tindakan yang tidak pantas.

Orang Jawa jarang, bahkan pantang : colong playu lungo gelanggang. Tapi, tindakan pendukung jokowi memang sudah kebangetan. Sudah bodoh, sombong dan bangga pula.

Membawa atribut calon, pada ajang deklarasi damai -padahal sebelumnya telah ada edaran KPU yang melarang itu- bisa disebut tindakan bodoh. Alih-alih mendongkrak elektabilitas, tindakan ini justru meruntuhkan wibawa jokowi. Publik, akan menilai jokowi didukung orang bodoh yang tak paham aturan.

Itu satu sisi. Sisi yang lain, tindakan itu mengkonfirmasi akan ada masalah besar dalam Pilpres 2019. Jika untuk acara yang terbuka saja mereka berani curang, mencuri start, apalagi untuk info tertutup ? Apalagi terkait data-data suara yang hanya diketahui tim IT atau orang-orang tertentu ? Lantas, bagaimana publik tidak khawatir dengan hasil pemilu dan Pilpres 2019 ?

Jika prosesnya saja tidak adil, bagaimana mungkin mengharapkan hasil yang murni tanpa tunggangan kepentingan ? Jika untuk hal kecil saja, mereka berani melabrak aturan, apalagi untuk hal-hal yang substansial ? Terkait hasil pemilu dan Pilpres yang menentukan siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan ?

Masih ingat kata-kata Stallin, yang memenangkan itu bukan suara, tapi penghitung suara. Bagaimanapun, partai harus fokus dan mengontrol hal ini.

Jangan sampai partai sibuk mendatangi massa untuk meraih simpati, tetapi angka dan suara mereka di curi. Jangan sampai partai sibuk mengajak massa masuk dalam agitasi pilihan, tetapi kotak suara telah ditentukan suaranya. Ini hanya praduga loh, tapi ingat : PRADUGA INI BISA MENJADI REALITA.

Kembali ke jokowi, kejadian ini apakah menampar jokowi ? Rasanya tidak, jokowi sudah terbiasa dengan kritik. Belum lama ini, jokowi dikritik karena mengambil sikap hormat bendera saat diperdengarkan lagu kebangsaan. Jokowi juga dikritik, karena melibatkan ulama dalam acara dangdutan. Wibawa ulama telah 'sukses' dilecehkan.

Saya kira, jokowi akan biasa-biasa saja, akan melakukan banyak kesalahan dan blunder lagi, dan jika ditanya paling dia akan jawab anu dan Anu, masih sangat anu. Kalaupun terpaksa, dia masih bisa berkata : BUKAN URUSAN SAYA !

Jadi netizen tidak perlu prihatin dan berempati. Menjelang Pilpres, akan banyak kedunguan-kedunguan politik yang dipertontonkan di negeri ini. Saran saya, beli kopi kapal api nikmat, seruput aromanya, sediakan kerupuk selondok untuk menemani Anda.

Kenapa ? Karena sinetron politik ini akan panjang, berjilid-jilid, bagi yang tidak sempat menonton langsung, siapkan recorder untuk merekam. [].