Cinta Dulu, Apa Nikah Dulu



Cinta Dulu, Apa Nikah Dulu

Tidak sedikit yang bertanya manakah yang lebih penting antara cinta dulu baru kemudian nikah atau nikah dulu baru cinta

Dan tidak sedikit yang karena mendewakan cinta, karena penganut aliran ‘perasaan’, pengikut ‘mazhab chemistry’ akhirnya mengatakan harus jatuh cinta dulu

Pertanyannya adalah, apakah tidak boleh dan tidak bisa menikah lalu jatuh cinta? Tentu saja boleh dan bisa, karena ini bukan hanya soal rasa tapi soal bagaimana syariat mengaturnya

Jika kita jatuh cinta sebelum menikah pada orang yang belum sah dan belum tentu juga berjodoh bagi kita, maka siapkah kita dengan konsekuensi setelahnya?

Apa konsekuensinya? (1) Jika jatuh cinta sebelum sah, sebelum akad di penghulu, khawatirnya akan mengagungkan perasaan (cinta), dan bisa kita dibutakan olehnya

Betapa kita melihat banyak anak-anak muda yang mengumbar rasa cinta, akhirnya salah arah dan salah dalam bertingkah, tak lagi syariat dijadikan acuan

Ingat, sepasang insan berlainan jenis dalam pandangan Islam tetap sebagai seorang ajnabi (asing), alias bukan atau belum mahram, sehingga ada ijtma’ (interaksi) yang harus diatur (2) Jika jatuh cinta sebelum sah menikah, khawatirnya jika ternyata atas kehendak Allah ditengah masa khitbah, ada salah satunya memutuskan berhenti, pasti akan sakit tak terperi

Perasaan hati itu gampang sekali berbolak-balik, kalau ketemu dengan fakta yang menyayat hati, pastilah sakit adanya, maka jangan dewakan perasaan hati

Jika sudah terlanjur menaruh hati dan akhirnya tak jadi ke pelaminan, yang ada jika tidak legowo dengan qadha’ bisa mencaci maki, yang tersisa hanya rasa benci

Maka yang benar adalah membangun cinta setelah sah menikah, meskipun komitmen bangunan cinta itu sudah disiapkan jauh sebelum menikah

Perasaan sreg, klik atau yang sejenisnya itu boleh ada, tidak dilarang karena memang itu fitrah, tapi sebaiknya jangan itu saja pertimbangan menikah

Dan saran saya sebaiknya jangan itu dijadikan alasan kita menikah, tapi alasan kita menikah dan menikahi adalah karena kita satu visi-misi, satu goal yang dituntun dan berpondasi iman

Ditulis: @LukyRouf