Wahai Bagian Tubuhku yang lain, Kemanakah Kalian! Derita Rohingya, Haruskah Kami Mati Didepanmu?

Wahai Bagian Tubuhku yang lain, Kemanakah Kalian! Derita Rohingya, Haruskah Kami Mati Didepanmu?
FotoMuslim Rohingya : Tempo.co


Wahai Bagian Tubuhku yang lain, Kemanakah Kalian! Derita Rohingya, Haruskah Kami Mati Didepanmu?

Salah satu peristiwa kemanusiaan paling mengerikan telah terjadi di Rohingya. Pembantaian Ummat Islam yang sungguh keji untuk bisa diungkapkan oleh kata-kata. Bagaimana tidak, korban kebiadaban yang dilakukan tentara Myanmar, Biksu-biksu Budha dan masyarakat sipil Budha terhadap Ummat Muslim Rohingya diluar batas akal sehat manusia. Mereka membantai secara keji bukan hanya pria Muslim dewasa, namun juga perempuan bahkan anak-anak, bayi-bayi dan tua renta. Cara mereka menghabisi membuat siapa saja bergidik ngeri, membangkitkan amarah dan menggelegakkan darah Ummat Islam, karena sebelum dibantai, rakyat Rohingya harus melewati dulu serangkaian penyiksaan yang sangat sadis luar biasa. Inilah genosida yang dilakukan mayoritas kepada minoritas Muslim. Kepengecutan para penganut Budha di Myanmar itu membuktikan, saat Muslim menjadi minoritas, tak akan pernah mereka rela hidup berdampingan! Mereka menganggap ummat Islam sebagai musuh, merendahkan lebih dari binatang, sehingga menganggap Muslim tidak layak hidup, harus diburu, disiksa, dibunuh, diperkosa, dikuliti, dibakar, disetrum, dimutilasi. Kebrutalan yang tak terperikan, penyiksaan yang terlintas dikepala mereka, tanpa segan mereka lakukan pada seluruh rakyat Rohingya tanpa pandang bulu! Ajaran welas asih yang menjadi slogan ajaran mereka hanya tinggal nama di negri Myanmar.

Tidak cukup itu saja, menurut berita yang dilansir Kiblat.net, setelah para gerilyawan Rohingya melakukan perlawanan dalam serangan gerilya dengan skala besar dan para tentara itu melakukan serangan balik dengan operasi brutal pada rakyat Rohingya, ratusan penganut Buddha, termasuk biksu, mendesak pemerintah Myanmar untuk melakukan tindakan yang lebih keras terhadap gerilyawan dari minoritas Muslim Rohingya. Mereka berkumpul di kota terbesar Myanmar, Yangon pada Rabu (30/08/2017). Wirathu, seorang biksu Buddha dan pemimpin gerakan anti-Muslim yang dikenal dengan khotbah kebenciannya, mengatakan kepada pemrotes hari Rabu di Yangon bahwa hanya militer yang dapat mengendalikan situasi di Rakhine utara.

Lantas apakah yang dilakukan para pemimpin di Negri-negri Muslim terhadap genosida ini? Adakah mereka segera mengambil tindakan tegas, segera bergerak secara nyata, mengirimkan tentara-tentara terbaiknya untuk dikirim ke Myanmar untuk menyelamatkan Ummat Muslim Rohingya? Semoga saja ada. Rohingya tidak hanya butuh obat-obatan dan makanan, nyawa mereka diujung tanduk, setiap saat bisa dihabisi, mereka butuh pertolongan dari sesama kaum Muslimin, satu-satunya jalan untuk hentikan kekerasan dan pembunuhan adalah dengan kekuatan yang sama, militer lawan militer.

Berbagai Ormas Islam sudah turun ke jalan, menyerukan agar pemerintah segera mengirimkan bantuan yang nyata, kirimkan Tentara terbaik ke Myanmar. Karena peristiwa genosida di Myanmar bukan hanya kali ini terjadi, tapi pernah terjadi ditahun-tahun sebelumnya. Bukti bahwa diplomasi tidak membuat mereka menghentikan secara permanen genosida itu.

Ormas Islam harus terus hadir agar Ummat mengetahui dan sadar akan pentingnya persatuan. Menumbuhkan kecintaan terhadap sesama Ummat Islam dan menjunjung toleransi beragama. Menyerukan amar ma’ruf nahi munkar, mengatakan kebenaran dan melawan kemungkaran. Mendudukan segala sesuatu dengan adil. Maka pembungkaman Ormas dengan Perppu adalah tindakan keliru dan dzolim.

Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya, ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” Nabi menjawab, ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud).


Alya Asma
Silakan Copy Artikel yang ada di sini, tapi cantumkan sumbernya http://akhwatmuslimahindonesia.blogspot.com/